Jumat, 01 Agustus 2014

Puisi..

BAHASA LANGIT

Puisi Hanifah Nadya Kartika

Gumpalan awan di langit biru
Bercerita kisah kita
Saat deras hujan bagai air mata
Dan cerah mentari jadi wajah kita

Warna pelangi di langit biru
Hanya jadi saksi bisu
Saksi kisah perjalananku denganmu
Saat perbedaan jadi keindahan

Langit pun berbahasa
Dan bersenandung ria
Lantunkan lagu rindu antara engkau dan aku

Oh Sahabat…
Langit pun berbahasa
Tanda bersuka cita
Sambut esok dimana kita kan slalu bersama
Selamanya…

Dan dengarlah, dengarlah slalu
Itulah semua tentang kita,
cerita bahasa langit…

Sabtu, 17 Mei 2014

CERPEN TERBARU



   

 MENTARI YANG TAKKAN PUPUS
                                                        Oleh : Fitriani Thamrin



   
     Di suatu desa terpencil , hidup seorang anak perempuan  yang bernama Mentari , ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lumpuh. mereka berasal dari keluarga yang miskin. Mentari adalah seorang anak kecil yang luar biasa, karena  pekerjaan orang dewasa dapat  ia kerjakan , sejak kecil Mentari hidup bersama Sang Ibu , karena ayahnya pergi  merantau sampai sekarang kabar dari sang ayah tak kunjung ada, sejak tahun lalu  Ibunya mengalami kecelakaan sehingga Mentari menjadi tulang punggung keluarga.
  Mentari sehari-hari menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah dan merawat ibunya digubuk yang kumuh. Setiap hari, Mentari harus bangun pagi membereskan kebutuhan Ibunya, sebelum berangkat kerja mencari plastik-platik bekas untuk dijual. Untuk memandikan Ibunya, Mentari harus mengangkat air dari sumur ke atas rumah. Demikian untuk membersihkan kotoran sang Ibu karena sang Ibu hanya terbaring lemas diranjang .
    Pada suatu pagi Sang Ibu tiba-tiba jatuh sakit ,Mentari yang masih polos itu tak tahu apa yang harus ia lakukan, terpaksa Mentari tidak pergi bekerja karena harus mengobati sang ibu, tapi apa daya uang untuk makan saja tidak cukup apalagi untuk membeli obat untuk sang Ibu. Sehingga Mentari harus pergi mencari bantuan ,Mentari pun mendatangi Rumah-rumah tetangga sejak pagi hingga sore.
   Sehingga ada seorang yang merupakan tetangga Mentari mau Membelikan obat untuk Ibunya, Betapa bahagianya Mentari saat itu,ternyata masih ada yangberbaik hati kepada Ibunya.
  “Bu harus kuat !! Mentari tidak ingin melihat Ibu sakit lagi” kata Mentari sambil menangis mengelus rambut sang Ibu , “maafkan Ibu nak , Ibu hanya menjadi beban untukmu”kata sang Ibu dengan suarah pelan. Mentari pun berlinang air mata langsung memeluk ibunya. Begitulah hari-hari yang ditempuh Mentari untuk mempertahankan hidupnya dan sang Ibu, mereka hidup dari belas kasihan tetangga disekeliling rumahnya. 
   Tiba-tiba sang Ayah datang, sejak sekian lama pergi merantau meninggalkan ia dan Ibunya, dan Sang ayah kini sudah menjadi orang yang sukses,  dan do’a Mentari kini terkabul, sang Ayah pun membawa Mentari dan Ibunya untuk pergi ke kota untuk hidup bersama,  ternyata Ayahnya sudah membelikan rumah yang mewah untuk mereka tempati, dan Mentari kini bisa bersekolah kembali dan bermain bersama teman-teman sebayanya di sekolah.
   Sementara sang Ibu menjalani pengobatan terapi dirumah sakit sehingga berangsur-angsur sang ibu pun sembuh dan Mentari pun kini hidup bahagia bersama kelurganya, meski bahagia mentari tetap menjadi anak yang rajin ,berbakti kepada orang tua dan rajin beribadah.

Senin, 05 Mei 2014

Cinta Itu Ikhlas

cinta bagaikan air laut yang mengisi sebagian isi bumi…
memberi banyak kehidupan..
membuat orang ingin tahu..
dan tiap orang pasti mengalami cinta..

cinta itu keikhlasan..
cinta itu kemauan..
cinta itu saling mengerti..
cinta itu indah jika kita bisa menempatkannya pada tempat terbaik dalam hati..jadikan cinta itu indah dihatimu..
karena cinta bisa seindah yang kau mau

 "aku mencintaimu"
 Dalam segala kurang dan lebihmu
Dalam pintaku pada-NYA terselip namamu yang selalu kurindu

Kamis, 03 April 2014

PUISI CINTA PEMIMPIN

Ya Muhammadku


Ya Muhammad...
Engkau sebagai penerang dunia
Kala gulita menjelma

Engkau datang sebagai Rahmah
Disaat Jahiliyah merambah
Ditengah kebodohan umat
Yang semakin mencuat

Hadirmu laksana sebatang lilin
Yang menerangi dinding-dinding kegelapan
Hingga terang menggantikan

Ya Muhammad
Engkaulah akhir dari segala Nabi
Yang mengajari kami ajaran suci
Lewat Kalam Illahi..

Selasa, 01 April 2014

BIJAK MENJALANI


Perasaan yang paling berbahaya adalah iri, karena iri hati melahirkan kebencian dan kebencian akan membunuhmu perlahan.
Tak peduli seperti apa hidupmu, kamu selalu punya pilihan untuk melihat dari sisi baiknya atau sisi buruknya.
Hanya karena seseorang terlihat kuat di hadapanmu, tak berarti dia bisa begitu kuat ketika tanpamu.
Jangan selalu katakan "masih ada waktu" atau "nanti saja". Lakukan segera, gunakan waktumu dengan bijak.
Hidup terlalu singkat jika hanya menyesal. Hidup hanya sekali, namun jika digunakan dengan baik, sekali saja cukup!
Hidup ini bukan hanya mencari yang terbaik, namun lebih kepada menerima kenyataan bahwa kamu adalah kamu. Jadi dirimu sendiri.
Orang yang bijak adalah yang tahu siapa yang harus dia percaya. Orang yang lebih bijak adalah dia yang selalu bisa dipercaya.
Sadarilah, mengeluh tidak menyelesaikan apapun. Mengeluh hanya akan menambah beban dihati. Berhentilah mengeluh, segera bertindak!
Jangan jadikan kegagalan kemarin sebagai penghambat hari ini. Semangat untuk membuat hari esok lebih baik, melalui hari ini.
Perbuatan adalah cerminan isi hati. Jika hati dipenuhi kebaikan, maka sikap dan tindakan akan baik, pun sebaliknya.