Jumat, 31 Oktober 2014

Apakah Bibirmu Masih Perawan ?



Mungkin ada di antara teman-teman yang familiar dengan kalimat diatas. “Apakah Bibirmu Masih Perawan ?” Itu adalah salah satu judul buku yang ditulis oleh Marendra Darwis. Sebuah kalimat pertanyaan yang sangat menohok. Karena ada begitu banyak orang yang menganggap aktivitas ini sebagai aktivitas yang biasa saja dalam hubungan pacaran.

Maka cobalah survey, berapa orang yang pacaran lalu di hubungan yang terjalin itu tidak terjadi aktivitas yang diharamkan agama. Saya yakin sangat kecil kemungkinannya. Semenjak saya menulis buku-buku cinta dan pernikahan, saya menerima banyak sekali cerita-cerita yang sungguh bikin hati sedih saat membacanya. Saya sampai bertanya-tanya, apakah sampai sejauh ini moral Generasi Muda kita ? Apakah sudah se-ngeri kejadian yang tak ter-blow up.

Lalu masihkah ada yang menyangkal bahwa ada yang namanya pacaran Islami ? Saya menduga itu hanya dalih. Karena ketika kata “Pacaran” disebut, konotasi yang hadir dalam benak kita pastilah aktivitas sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat luas. Banyak yang saat pacaran nafsunya meluap-luap hingga tak insaf-insaf. Nafsu telah dimenangkan, iman ditaruh sejenak lalu diabaikan, rasa malu pun sejenak digadaikan.

Padahal sebuah hubungan yang dibimbing oleh hawa nafsu selamanya tidak akan pernah memenangkan pelakunya. Sudah pasti itu. Perasaan diri kotor, penuh maksiat, berlumur dosa, sudah pasti akan membuat jiwanya tidak tenang.

Penyampai yang tak mengamalkan apa yang disampaikannya, tanggungjawabnya jauh lebih besar Dan itu adalah urusannya dengan Tuhan. Tidak peduli siapa orangnya, jika kalimatnya benar dan bermanfaat, maka ambillah lalu amalkan. Itu adalah salah satu cara Tuhan untuk menasihatkan kebenaran kepada kita.
-Aku Mencintaimu Karena Allah- by Ahmad Rifa’I Rif’an

Allah maha pengampun, sudah sepatutnya kita bertaubat sebelum Allah mencabut Nyawa kita...
TUJUH GOLONGAN YANG ALLAH NAUNGI DI HARI KIAMAT

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَا

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

1. Pemimpin yang adil.

2. Pemuda yang tumbuh di atas
kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya.

3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.

4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah.

5. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.

6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.

7. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”
(HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712). (130)

Sabtu, 13 September 2014

Penantian Muslimah


"Wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya baik, maka baiklah negara itu, tapi bila wanitanya buruk, maka buruk pulalah negara itu."

Muslimah, Anti telah terhijab oleh kerudung yang terurai dari atas kepalamu untuk menjaga keindahanmu. Hijabmu sungguh tebal setebal imanmu dalam menjaga keelokanmu. bagaimanapun Anti terlihat begitu anggun dengan hijab itu, maka jagalah hingga Allah subhanahu wata'ala mencintaimu.

Seorang wanita harus bisa menjaga diri dari apa yang akan dilewatinya dalam kehidupan ini, karena sebaik-baiknya wanita adalah wanita yang mampu menahan diri dari apa yang mencelakakan dirinya. karena wanita shalihah adalah mutiara berharga yang dihadiahkan untuk para laki-laki yang berkhlaq mulia'

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” ( Q.s An Nuur: 26)

Muslimah, penantian adalah sebuah ujian yang apabila di dalamnya terajut kesabaran akan berbuah keindahan yang dipenuhi keikhlasan. Seandainya hatimu mampu bersabar dalam sebuah penantian maka keindahan itu akan menghampirimu dengan keikhlasan.

Mutiara yang tersimpan itu akan memancarkan keindahannya namun sebaliknya mutiara yang tak tersimpan itu akan kusam. (My notice)

Muslimah, kunci dari segala ujian adalah kesabaran. Fase penantian adalah layaknya fase untuk senantiasa bersabar dalam keistiqomahan. Dengan itulah anti mampu bertahan dan berbaik sangka dari setiap jengkal kisah kehidupan. Berusaha untuk terus memperbaiki ketaqwaan diri untuk sang pencipta pada dasarnya adalah memperbaiki diri untuk seseorang yang anti idamankan.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.s Ar Ruum : 21)

Muslimah,
Jadilah seperti Khadijah yang dengan keikhlasannya mampu mendapatkan Rasulullah, dan jadilah seperti Fatimah Azzahrah yang dengan kesabarannya mampu mendapatkan Ali bin abi thalib.

Dalam setiap penantian wanita-wanita sholehah terdapat keindahan yang tersimpan di dalamnya, keindahan yang mampu memberikan kebaikan dalam kesabarannya dan dengan kesabarannya mampu menggoreskan tinta keikhlasan dalam jiwanya.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam berkata
"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah" (HR Muslim)

Wanita shalihah adalah yang bisa menjaga aurat dan akhlaknya, menjaga lisan dari setiap perkataannya, mampu mejaga hati dari setiap keburukannya. InsyaAllah.

"...Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Dan jangan pula mereka memperagakan kecantikannya.." (Q.S. An Nuur 31)

" Muslimah bersabarlah, Segala sesuatunya itu akan indah pada waktunya”[]

Jumat, 01 Agustus 2014

Puisi..

BAHASA LANGIT

Puisi Hanifah Nadya Kartika

Gumpalan awan di langit biru
Bercerita kisah kita
Saat deras hujan bagai air mata
Dan cerah mentari jadi wajah kita

Warna pelangi di langit biru
Hanya jadi saksi bisu
Saksi kisah perjalananku denganmu
Saat perbedaan jadi keindahan

Langit pun berbahasa
Dan bersenandung ria
Lantunkan lagu rindu antara engkau dan aku

Oh Sahabat…
Langit pun berbahasa
Tanda bersuka cita
Sambut esok dimana kita kan slalu bersama
Selamanya…

Dan dengarlah, dengarlah slalu
Itulah semua tentang kita,
cerita bahasa langit…

Sabtu, 17 Mei 2014

CERPEN TERBARU



   

 MENTARI YANG TAKKAN PUPUS
                                                        Oleh : Fitriani Thamrin



   
     Di suatu desa terpencil , hidup seorang anak perempuan  yang bernama Mentari , ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lumpuh. mereka berasal dari keluarga yang miskin. Mentari adalah seorang anak kecil yang luar biasa, karena  pekerjaan orang dewasa dapat  ia kerjakan , sejak kecil Mentari hidup bersama Sang Ibu , karena ayahnya pergi  merantau sampai sekarang kabar dari sang ayah tak kunjung ada, sejak tahun lalu  Ibunya mengalami kecelakaan sehingga Mentari menjadi tulang punggung keluarga.
  Mentari sehari-hari menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah dan merawat ibunya digubuk yang kumuh. Setiap hari, Mentari harus bangun pagi membereskan kebutuhan Ibunya, sebelum berangkat kerja mencari plastik-platik bekas untuk dijual. Untuk memandikan Ibunya, Mentari harus mengangkat air dari sumur ke atas rumah. Demikian untuk membersihkan kotoran sang Ibu karena sang Ibu hanya terbaring lemas diranjang .
    Pada suatu pagi Sang Ibu tiba-tiba jatuh sakit ,Mentari yang masih polos itu tak tahu apa yang harus ia lakukan, terpaksa Mentari tidak pergi bekerja karena harus mengobati sang ibu, tapi apa daya uang untuk makan saja tidak cukup apalagi untuk membeli obat untuk sang Ibu. Sehingga Mentari harus pergi mencari bantuan ,Mentari pun mendatangi Rumah-rumah tetangga sejak pagi hingga sore.
   Sehingga ada seorang yang merupakan tetangga Mentari mau Membelikan obat untuk Ibunya, Betapa bahagianya Mentari saat itu,ternyata masih ada yangberbaik hati kepada Ibunya.
  “Bu harus kuat !! Mentari tidak ingin melihat Ibu sakit lagi” kata Mentari sambil menangis mengelus rambut sang Ibu , “maafkan Ibu nak , Ibu hanya menjadi beban untukmu”kata sang Ibu dengan suarah pelan. Mentari pun berlinang air mata langsung memeluk ibunya. Begitulah hari-hari yang ditempuh Mentari untuk mempertahankan hidupnya dan sang Ibu, mereka hidup dari belas kasihan tetangga disekeliling rumahnya. 
   Tiba-tiba sang Ayah datang, sejak sekian lama pergi merantau meninggalkan ia dan Ibunya, dan Sang ayah kini sudah menjadi orang yang sukses,  dan do’a Mentari kini terkabul, sang Ayah pun membawa Mentari dan Ibunya untuk pergi ke kota untuk hidup bersama,  ternyata Ayahnya sudah membelikan rumah yang mewah untuk mereka tempati, dan Mentari kini bisa bersekolah kembali dan bermain bersama teman-teman sebayanya di sekolah.
   Sementara sang Ibu menjalani pengobatan terapi dirumah sakit sehingga berangsur-angsur sang ibu pun sembuh dan Mentari pun kini hidup bahagia bersama kelurganya, meski bahagia mentari tetap menjadi anak yang rajin ,berbakti kepada orang tua dan rajin beribadah.

Senin, 05 Mei 2014

Cinta Itu Ikhlas

cinta bagaikan air laut yang mengisi sebagian isi bumi…
memberi banyak kehidupan..
membuat orang ingin tahu..
dan tiap orang pasti mengalami cinta..

cinta itu keikhlasan..
cinta itu kemauan..
cinta itu saling mengerti..
cinta itu indah jika kita bisa menempatkannya pada tempat terbaik dalam hati..jadikan cinta itu indah dihatimu..
karena cinta bisa seindah yang kau mau

 "aku mencintaimu"
 Dalam segala kurang dan lebihmu
Dalam pintaku pada-NYA terselip namamu yang selalu kurindu